Pandemi di Kota Besar Diprediksi Lebih Lama

IN
Oleh inilahcom
Rabu 28 Oktober 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Kota besar padat penduduk, menurut sebuah studi memperkirakan bakal mengalami pandemi COVID-19 lebih lama dibanding wilayah dengan populasi kecil.

Saat ini, pandemi COVID-19 secara global masih berlangsung dan belum ada tanda-tanda segera berakhir.

Penambahan kasus di Indonesia, dikutip dari laman Hellosehat, masih terbilang tinggi di angkat 4000-an per hari dan belum menunjukan kurva penurunan kasus. Artinya, meski di beberapa negara lain gelombang pertama telah terlewati, sementara di Indonesia puncak gelombang pertama pun belum dilalui.

Di fase awal pandemi, penularan terjadi karena adanya mobilitas manusia keluar dari Wuhan lalu menyebar ke berbagai negara lain. Kemudian penularan meluas di satu wilayah dan berubah bukan lagi kasus impor namun terjadi transmisi lokal di antara masyarakat.

Peneliti dari Oxford University membuat model penyebaran COVID-19 di kota atau komunitas dengan kepadatan populasi yang berbeda.

Studi ini dilakukan dengan memvalidasi model dan membandingkan data penularan dari pergerakan individu dan tingkat infeksi di kota-kota China yang padat dengan provinsi yang kurang padat di Italia.

Berdasarkan permodelan tersebut, tim peneliti menemukan bahwa pengurangan mobilitas warga memang mampu menekan laju penambahan kasus. Namun kepadatan penduduk menjadi faktor independen yang menentukan situasi pandemi.

Daerah dengan populasi dan kepadatan penduduk yang rendah mengalami pandemi lebih singkat dibandingkan dengan daerah berpopulasi tinggi dan padat penduduk. Di daerah kurang padat penduduk, puncak wabah bisa terjadi dengan cepat ketika muncul superspreading atau penularan besar. Namun wabah dapat dengan cepat mereka karena warga tidak berbaur dengan bebas.

Sedangkan kota-kota besar dengan penduduk padat diprediksi akan mengalami pandemi lebih lama. Kepadatan penduduk berpotensi menimbulkan penularan berkelanjutan di antara rumah tangga dan populasi kota.

Faktor lain yang membuat kasus penularan tidak turun dan terjadi berkepanjangan juga terkait dengan tata letak kota dan struktur sosial bukan hanya keramaian populasi. Maka menekan mobilitas warga dapat menjadi intervensi non-medis untuk mengurangi laju penularan sehingga melandaikan kurva epidemi. [wll]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA