Kenali Disfungsi Ereksi Pengaruhi Kejiwaan

IN
Oleh inilahcom
Jumat 30 Oktober 2020
share
Istimewa

INILAHCOM, Jakarta - Disfungsi Ereksi (DE) masih menjadi masalah yang selalu diperbincangkan bagi kehidupan seksual.

Dr. dr. Nur Rasyid, SpU (K), Departemen Medik Urologi FKUI-RSCM, mengemukakan, DE merupakan bagian dari disfungsi seksual pada pria, selain penurunan dorongan seksual (libido atau gairah) dan kelainan ejakulasi.

Mengingat fungsi seksual melibatkan proses yang kompleks, yaitu sistem syaraf, hormon, dan pembuluh darah, maka kelainan pada sistem ini, baik oleh penyakit, obat-obatan, gaya hidup, atau sebab lain, dapat mempengaruhi proses ereksi, ejakulasi, dan orgasme.

"Walaupun DE sering dianggap remeh dan dianggap tabu untuk dibicarakan, nyatanya 52 persen pria berusia 40-70 tahun sudah mengalami gejala DE.3 Di Indonesia, prevalensi DE pada populasi berusia 20-80 tahun cukup tinggi, yaitu 35.6 persen, dengan angka kejadian yang meningkat seiring bertambahnya usia," kata Nur Rasyid, Jakarta, Jumat, (30/10/2020).

Dalam manajemen DE, pemeriksaan komprehensif untuk menentukan faktor penyebab dan selanjutnya memilih terapi yang tepat dan optimal. Sebelum melakukan prosedur terapi, perlu adanya pemahaman akan ekspektasi pasien sehingga terapi yang dipilih nantinya sudah dipahami dengan baik.

"Berapapun derajat DE yang dialami oleh pasien, manajemen DE selalu dimulai dari 3 hal, yaitu terapi penyebab DE yang bisa disembuhkan (curable), eliminasi faktor risiko dengan modifikasi gaya hidup, serta edukasi dan konseling pasien dan pasangan. Setelah itu, dapat dilakukan terapi yang bersifat spesifik untuk tiap-tiap pasien, berkaitan dengan toleransi, invasiness(operatif vs nonoperatif), efektivitas, biaya, keamanan, dan ekspektasi pasien," tambahnya.

Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ (K), Departemen Medik Ilmu Kesehatan Jiwa FKUIRSCM menjelaskan, beberapa penelitian menemukan bahwa disfungsi seksual pada pria ternyata juga dapat memicu terjadinya masalah atau gangguan jiwa tertentu.

"Beberapa masalah kejiwaan yang terkait seperti kecemasan yang menetap, adanya masalah marital yang memicu terjadinya disfungsi seksual, depresi, perasaan bersalah, stress, trauma, adiksi pornografi yang memicu timbulnya pornography induced erectile dysfunction," kata Tjhin Wiguna.

Individu dengan disfungsi seksual perlu melakukan konsultasi dengan psikiater agar dapat dikenali secara dini masalah kesehatan jiwa yang mungkin ada sehingga dapat diberikan tatalaksana yang sesuai.

Pada umumnya tatalaksana dalam bidang psikiatri diberikan dengan konsep biopsikososial, yaitu terapi yang bersifat biologik seperti pemberian psikfarmakoterapi sesuai dengan kebutuhan pasien.

Selain itu juga memberikan terapi psikososial seperti psikoterapi suportif yang bertujuan untuk mendukung atau mempetahankan sistem ego agar terus dapat berfungsi dengan baik, memperbaiki fungsi adaptif pasien, serta membantu pasien agar memiliki rasa percaya diri yang lebih optimal.

"Selain itu juga dapat diberikan jenis psikoterapi lain berupa psikoterapi yang bersifat re-edukatif seperti terapi kogntif perilaku untuk membantu pasien mengenali berbagai pikiran negatif yang mencetuskan timbulnya emosi maladaptif, dan menuntun pasien mencari berbagai alternatif pikiran yang lebih adaptif sehingga bisa mengatasi emosi negatif dan mampu membuat pasien merasa lebih nyaman. Jika diperlukan juga dapat dilakukan psikoterapi yang berorientasi psikoanalitik untuk merekonstruksi kepribadian pasien atau meningkatkan tilikan pasien terhadap dirinya dan juga sekitarnya," tambahnya.(tka)

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA