Enam Terapi Medik untuk Masalah Seksual Pria

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 31 Oktober 2020
share
Istimewa

INILAHCOM, Jakarta - Adanya ganggunan seksual pada pria harus segera diperiksa. Bagaimana caranya?

Sebelum menentukan terapi yang tepat, seseorang akan menjalani serangkaian pemeriksaan.

"Penting diketahui bahwa di bidang rehabilitasi dinyatakan, untuk mencapai orgasme, tidak selalu harus berkorelasi dengan ejakulasi pada pria. Penelitian telah menunjukkan bahwa terdapat bagian otak spesifik yang akan teraktivasi saat seseorang mencapai orgasme," papar dr. Herdiman B. Purba, SpKFR-K, MPD.Ked, Departemen Medik Rehabilitasi Medik FKUI-RSCM, saat webinar, Jakarta, Sabtu, (31/10/2020).

Prosedur pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan secara pasti diagnosis pasien, serta penyebab yang mendasarinya.

Hal ini disebabkan fungsi seksual melibatkan proses yang kompleks, meliputi sistem saraf, hormon, dan pembuluh darah.

Contoh pemeriksaan yang dilakukan antara lain pemeriksaan gula darah, tekanan darah, dan kolesterol.

Bila diperlukan, dapat dilakukan pemeriksaan yang lebih spesifik, seperti kadar hormon testosteron maupun pemeriksaan aliran darah ke genital.

Bila ditemukan kelainan, maka pasien dapat berkonsultasi dengan bidang urologi, bidang endokrin penyakit dalam, bidang psikiatri, atau bidang lain yang sesuai dengan hasil temuan.

Manajemen disfungsi seksual pria dimulai dari tiga aspek, yaitu kontrol penyebab gangguan yang bisa disembuhkan, perbaikan gaya hidup, dan edukasi dan konseling pasien dan pasangan.

Pilihan terapi pada disfungsi seksual cukup beragam, namun dapat dibagi menjadi beberapa kelompok besar, yaitu:

1. Obat-obatan, seperti sildenafil dan tadalafil

2. Terapi non-invasif, seperti ESWT

3. Terapi hormonal pria

4. Terapi psikologis dengan psikoterapi

5. Alat bantu mekanik, seperti alat vakum dan implan penis

6. Rehabilitasi medik, misalnya dengan pelatihan otot-otot penunjang aktivitas seksual dengan biofeedback.

Untuk mencapai prinsip terapi yang holistik, perawatan pasien dengan disfungsi seksual perlu melibatkan partner/pasangan hidupnya.

Edukasi dan konseling penting untuk diberikan kepada kedua pihak mengingat kepuasan seksual bersifat dua arah.

Tidak jarang pula, disfungsi seksual pada laki-laki disebabkan oleh kelainan pada genitalia pasangan hidupnya.

Karena itu, langkah-langkah modifikasi dapat dilakukan oleh pasangan pasien, sehingga semua pihak dapat mencapai tingkat kepuasan yang diinginkan.(tka)

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA