Prevalensi Anemia Tertinggi di Asia Tenggara

MU
Oleh Mia Umi Kartikawati
Senin 02 November 2020
share
Istimewa

INILAHCOM, Jakarta - Saat ini, sekitar 2,3 miliar orang menderita anemia.

Satu dari dua penderita mengidap anemia karena defisiensi zat besi (IDA) dan mengalami gejala seperti sering kelelahan, pusing, pucat, dan gangguan kekebalan tubuh yang memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas.

Asia Tenggara dan Afrika memiliki tingkat prevalensi anemia tertinggi yang mewakili 85 persen dari kasus yang dilaporkan secara global.

Prof. Dr. Zulfiqar A. Bhutta, Robert Harding Inaugural Chair in Global Child Health, Hospital for Sick Children and Co-Director of the SickKids Centre for Global Child Health (Kanada) mengatakan, Walaupun terdapat cukup bukti mengenai beban yang ditimbulkan dan epidemiologi mengenai anemia dan defisiensi zat besi pada anak-anak dan wanita usia subur di berbagai belahan dunia, penanganan secara strategis masih sangat lambat dan berdampak dengan hilangnya sumber daya manusia secara signifikan.

"Tantangan ini diperparah dengan pandemi COVID-19 dan berbagai konsekuensi ekonomi yang terjadi. Deteksi dini anemia secara menyeluruh dan penanganan yang tepat harus menjadi prioritas global," kata Zulfiqar A. Bhutta, Jakarta, Senin, (02/11/2020).

Potensi penuh dari beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan terkait nutrisi, kesehatan dan pembelajaran (SDGs 2, 3 dan 4) tidak dapat direalisasikan tanpa penanganan anemia akibat defisiensi zat besi dalam skala besar, terutama di populasi yang terpinggirkan dan sangat miskin di dunia.

Sebagai bagian dari inisiatif, P&G Health mengumumkan kemitraan strategis dengan Asia & Oceania Federation of Obstetrics & Gynecology (AOFOG) yang akan bekerja sama untuk menghasilkan berbagai inisiatif bagi kesehatan masyarakat.

Ini mencakup serangkaian sesi virtual Blood Health Forum' dalam berbagai topik yang dirancang untuk mengedukasi, meningkatkan kesadaran, dan pada akhirnya untuk dapat memberikan rekomendasi terbaik bagi pasien untuk memastikan managemen/penanganan yang lebih baik.

Forum ini dihadiri oleh lebih dari 2.500 peserta dari seluruh sektor layanan kesehatan Asia termasuk 600 dari Indonesia. Peserta yang terlibat dalam forum ini terdiri dari spesialis terapeutik seperti dokter kandungan dan ginekolog, dokter spesialis anak, dokter umum, dan ahli hematologi.(tka)

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA