Ini Konsep Pengurangan Risiko dari Merokok

IN
Oleh inilahcom
Minggu 29 November 2020
share
Istimewa

INILAHCOM, Bandung - Ketua Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, Achmad Syawqie, menjelaskan konsep pengurangan risiko banyak diterapkan pada kehidupan.

Selain itu, penerapan konsep pengurangan risiko juga diaplikasikan pada produk tembakau alternatif. Hal ini terjadi lantaran permasalahan kesehatan terkait kebiasaan merokok masih mengkhawatirkan.

Selama satu dekade terakhir, beragam produk tembakau alternatif mulai muncul di pasaran di antaranya seperti produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, snus, dan kantung nikotin.

"Produk tembakau alternatif yang menerapkan konsep pengurangan risiko memiliki potensi untuk menjadi pilihan bagi perokok dewasa mengurangi risiko kesehatan dengan beralih sepenuhnya," kata Syawqie, Bandung, Minggu, (29/11/2020).

Sejumlah kajian ilmiah luar negeri juga telah membuktikan bahwa produk ini memang jauh lebih rendah risiko kesehatan dibandingkan dengan rokok konvensional.

"Inovasi ini bisa menjadi solusi bagi permasalahan rokok di Indonesia," ujar Syawqie.

Sejumlah penelitian ilmiah, seperti Public Health England dan German Federal Institute for Risk Assessement (BfR), menyimpulkan bahwa rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah daripada rokok.

UK Committee on Toxicology (COT), bagian dari Food Standards Agency, juga menyimpulkan secara positif bahwa produk tembakau yang dipanaskan mengurangi bahan kimia berbahaya sebesar 50 hingga 90 persen daripada rokok.

Meski demikian, pada awal kehadirannya di Indonesia, produk tembakau alternatif menuai pro dan kontra karena minimnya informasi akurat dan penelitian dalam negeri.

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran (Unpad) bersama dengan YPKP Indonesia secara independen menginisasi penelitian untuk mengetahui profil risiko produk tembakau alternatif.

"Saat itu kami menjadi pioneer penelitian produk tembakau alternatif di Indonesia. Penelitian pertama kami menemukan bahwa uap hasil pemanasan dari cairan e-liquid pada rokok elektrik mengandung kontaminan yang lebih rendah dari asap rokok," katanya.

Penelitian tersebut disambut baik oleh berbagai pihak termasuk pemerintah dan pelaku industri.

"YPKP juga secara proaktif menyampaikan temuan tersebut kepada Pemerintah sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun regulasi yang tepat untuk produk ini," ungkapnya.(tka)

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA