Dampak Pandemi pada Hak Anak

IN
Oleh inilahcom
Selasa 15 Desember 2020
share
Istimewa

INILAHCOM, Jakarta - Sehubungan dengan situasi hak anak yang mengalami dampak pandemi Covid-19. Situasi tersebut memaksa agar semua orang termasuk anak-anak untuk beradaptasi secepat mungkin.

Dengan tidak adanya kepastian di tengah situasi yang terus berubah-ubah, anak-anak menjadi rentan dengan berbagai risiko.

Save the Children membuat refleksi situasi hak anak Indonesia sebagai upaya hak-hak anak dapat dipenuhi dengan cara yang terus membaik.

Interim Campaign Manager Save the Children Indonesia, Fandi Yusuf, memaparkan hasil dari Rapid Needs Assessment atau Penilaian Kebutuhan secara Cepat yang dilakukan bulan April 2020 dan memetakan setidaknya ada 7 risiko utama yang dihadapi oleh anak-anak selama pandemi.

Resiko itu adalah kehilangan orang tua karena Covid-19, orang tua kehilangan mata pencaharian atau pendapatan, sulit mengakses layanan pendidikan yang berkualitas, rentan mengalami kekerasan dan eksploitasi, sulit mengakses layanan kesehatan dasar dan gizi, anak yang tinggal di kawasan dan rawan bencana, dan terbatasnya dukungan bagi anak dengan disabilitas.

Save the Children berupaya dalam berbagai bidang terutama kesehatan, nutrisi dan pendidikan anak, perlindungan anak, dan tata kelola hak anak.

"Kita perlu memastikan anak-anak tetap dapat belajar di rumah sehingga tingkat keaksaraan mereta tetap terjaga dengan baik dan tetap bersemangat mempersiapkan diri kembali ke sekolah jika situasi telah aman," ujar Fandi, saat temu media virtual, Jakarta, Selasa, (15/12/2020).

Dia menambahkan, memberikan pemahaman terhadap kondisi psikologis anak dan selama Pandemi Covid-19.

Deputy Chief Program Impact and Policy Tata Sudrajat menambahkan adanya angka kekerasan pada anak, termasuk yang terjadi di rumah, meningkat selama masa Pandemi Covid-19.

Ia memaparkan sebagian hasil dari Global Survey Save the Children di 34 negara pada bulan Agustus 2020.

Dari survei tersebut disampaikan 23 persen orang tua melakukan pengasuhan negatif kepada anak. 25 persen keluarga melaporkan adanya kekerasan dalam keluarga yang mengalami pengurangan pendapatan.

Terkait dengan pembelajaran daring, 40 persen orang tua belum melakukan tindakan untuk melindungi anaknya dari dampak negative internet, termasuk perundungan di sekolah melalui internet.

"Dengan adanya Pembelajaran Jarak Jauh ini konsumsi internet oleh anak yang biasanya hanya 3-4 jam menjadi naik. Sangat disayangkan orang tua belum semuanya dapat melindungi anak-anak dari paparan informasi di internet, termasuk potensi cyber bullying yang meningkat seiring dengan penggunaan internet," papar Tata.(tka)

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA