Masalah Gizi di Masa Pandemi Semakin Krusial

IN
Oleh inilahcom
Kamis 28 Januari 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta Hingga kini permasalahan gizi seperti stunting, obesitas, dan kurangnya konsumsi makanan dengan gizi seimbang, selalu masih menjadi tiga permasalahan gizi utama di Indonesia.

Pada Hari Gizi Nasional (HGN) yang diperingati setiap tanggal 25 Januari disetiap tahunnya selalu menjadi pengingat akan masih adanya permasalahan gizi di Indonesia.

PT AJINOMOTO INDONESIA melalui berbagai kegiatan Webinarnya yang dilakukan sejak November 2020, turut berkontribusi dalam momentum Hari Gizi Nasional 2021, dengan memberikan edukasi kepada masyarakat Indonesia tentang pentingnya asupan gizi seimbang dan strategi diet rendah garam, guna menjaga imunitas tubuh di masa pandemi Covid-19.

Dr. Johanes Chandrawinata Sp.Gk, MND, pakar gizi, yang juga menjadi narasumber untuk kegiatan Webinar yang akan dilaksanakan oleh PT AJINOMOTO INDONESIA bekerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), turut berpendapat terkait momentum Hari Gizi Nasional 2021.

Menurut Dr. Johanes Chandrawinata Sp.Gk, MND, pakar gizi, permasalahan gizi terlebih di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini menjadi semakin krusial.

Pada masa Pandemi Covid-19, mengharuskan semua orang untuk menjaga daya tahan tubuh yang optimal dan pada saat yang sama juga menjaga serta memperbaiki kesehatan tubuh agar terhindar dari berbagai penyakit.

"Sistem imun selalu aktif melaksanakan pengawasan, namun aktifitas nya meningkat jika individu terkena infeksi. Peningkatan aktifitas ini disertai peningkatan metabolisme, yang memerlukan sumber energi dan bahan untuk biosintesa dan molekul pengatur. Sumber energi dan bahan molekul pengatur ini tentunya berasal dari diet. Karena itu kecukupan asupan berbagai jenis zat gizi sangat penting untuk menunjang sistem imun berfungsi secara optimal," ujar Johanes Chandrawinata, seperti yang dikutip dari siaran pers, Jakarta, Kamis, (28/01/2021).

Melakukan diet rendah garam menjadi salah satu cara untuk mencegah munculnya penyakit degeneratif, dengan mencegah hal tersebut, peluang kita untuk menjaga sistem imun semakin tinggi. Sudah banyak penelitian tentang penurunan asupan natrium (garam).

"Contoh, Halim dkk dalam penelitian terbaru tahun 2020 dalam Journal of Food Science juga membuktikan peran MSG dalam menjaga rasa nikmat makanan walaupun kadar natrium nya dikurangi antara 30-60 persen. Dari penelitian tersebut, dapat kita simpulkan bahwa penurunan asupan garam dapat dicapai tanpa harus mengorbankan cita rasa makanan dengan penambahan MSG secukupnya," lanjutnya.

Menurut Dr. Jo, kampanye Pemerintah Indonesia terkait GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat), dan juga pembatasan GGL (Gula-Garam-Lemak), tidaklah cukup untuk mengentaskan permasalahan gizi di Indonesia.

"Peran serta industri / pelaku bisnis dibidang makanan juga perlu ditingkatkan dengan membuat produk yang lebih sehat rendah gula, rendah garam, dan rendah lemak, namun tetap bercita-rasa tinggi demi ikut aktif menciptakan masyarakat Indonesia yang lebih sehat. Juga mendidik masyarakat agar bertambah pengetahuannya tentang makan yang lebih sehat menuju tubuh yang lebih sehat pula," ungkap Dr. Jo.(tka)

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA