Pandemi, Risiko Anak Alami Rabun Jauh Meningkat

IN
Oleh inilahcom
Rabu 03 Maret 2021
share
Istimewa

INILAHCOM, Jakarta Prevalensi miopia yang biasa disebut rabun jauh atau mata minus terus meningkat.

Pandemi COVID-19 memberi pengaruh pada penambahan kasus miopia. Temuan WHO menyebut, sekitar 40 persen dari populasi dunia sekitar 3,3 miliar orang akan menderita miopia pada 2030 mendatang.

Bahkan, akan mencapai lebih dari setengah populasi dunia sekitar 4,8 miliar orang pada 2050. Lebih-lebih saat ini, situasi pandemi COVID-19 turut berandil meningkatkan kasus miopia, termasuk pada anak-anak.

Studi di China baru-baru ini memperlihatkan, bahwa selama 2020, anak usia 6-8 ternyata 3 kali lipat lebih rawan terkena miopia dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Lebih sedikit waktu di luar ruangan dan lebih banyak waktu menatap layar menjadi pemicu.

Di samping genetik, faktor risiko miopia lainnya adalah gaya hidup. Tak bisa dipungkiri, pandemi COVID-19 mengubah perilaku masyarakat. Aktivitas di luar ruangan jauh berkurang, sementara kelekatan terhadap gawai berlayar semakin tinggi.

"Anak-anak belajar jarak jauh secara daring, sedangkan kelompok dewasa juga bertumpu pada gadget untuk bekerja dan bersosialisasi. Artinya, semua kalangan usia semakin berpotensi terserang miopia," papar Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K), Ketua Layanan JEC Myopia Control Care, Jakarta, baru - baru ini.

Bukan saja membuat penderitanya tak nyaman ketika beraktivitas, jika tidak segera diatasi, miopia bisa menyebabkan komplikasi lanjutan seperti mata malas, katarak, glaukoma, dan retina lepas. Bahkan, sampai kebutaan.

Karenanya, gejala miopia yang terkesan remeh, antara lain, sering memicingkan mata saat melihat, kesulitan memandang jauh ketika berkendara, sering mendekatkan mata ke layar TV atau ponsel, mata terasa lelah dan tegang, serta kerap mengucek mata patut diwaspadai. Pemeriksaan mata secara berkala minimal 6-12 bulan sekali menjadi kunci.

JEC Myopia Control Care menawarkan layanan dari tahapan awal konsultasi dan screening mata secara komprehensif, hingga langkah-langkah treatment berdasarkan tingkatan kebutuhan dan usia anak-anak hingga dewasa.

Mulai pemberian vitamin, terapi obat tetes mata, anjuran penggunaan kacamata yang terkustomisasi, terapi lensa kontak (Ortho-K, RGP Lens, Scleral Lens), sampai koreksi refraksi dengan LASIK/ReLEx SMILE.

Pasien miopia mempunyai beragam pilihan penanganan untuk mengatasi kondisinya. Tentunya, pilihan penanganan didasarkan pada level miopia serta didahului dengan pemeriksaan yang mendalam.

Contohnya, terapi Atropin 0,01 persen, bisa membantu menghambat perkembangan mata minus pada anak-anak usia di bawah 15 tahun.

Ada juga, terapi lensa kontak khusus Ortho-K yang dikenakan pada malam hari untuk membantu pasien terbebas dari penggunaan kacamata selama aktivitas keesokan harinya. Ortho-K dapat digunakan pada semua usia, sejak usia 5 tahun sekalipun.

"Sementara, LASIK/ReLEx SMILE - yang membutuhkan waktu tindakan hanya beberapa detik, disarankan bagi penderita minus tinggi berusia di atas 18 tahun," tambah Dr. Damara Andalia, SpM selaku Wakil Ketua JEC Myopia Control Care.(tka)

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA