Sudah Vaksin, Jangan Abai Soal Imunitas Tubuh

IN
Oleh inilahcom
Kamis 29 April 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Sudah mendapatkan vaksin kedua, bukan berarti tubuh jadi kebal terhadap virus.

Hal ini menjadi salah satu yang harus diperhatikan masyarakat agar tetap menjaga imunitas tubuh di tengah pandemi yang belum usai.

Pasca program vaksinasi di Indonesia, penyebaran Covid-19 masih belum turun signifikan.

"Masalah Covid-19 di Indonesia masih belum dapat diatasi sesuai harapan," kata Dokter Spesialis Paru, Dr.dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K), Jakarta, pada acara SOHO, Jakarta, baru - baru ini.

Kasus harian tetap ada. Bahkan, sudah mulai 6.000-an lagi per harinya. Dan, ini cukup mengkhawatirkan. Indonesia, kasusnya sudah di atas 1,6 juta, dengan kematian lebih dari 44 ribu.

Saat ini, Indonesia di peringkat ke-18 di dunia, dari sisi jumlah kasus Covid-19. Indonesia masih perlu waspada, karena baru melakukan vaksinasi 2%-an dari target jumlah orang yang divaksin.

"Harus diingatkan menjalankan 5M dan juga menjaga imunitas tubuh adalah sesuatu yang penting, agar pencegahan bisa benar-benar dilaksanakan. Kita sudah sangat menderita, karena pandemi tidak kunjung selesai," ujar dokter dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Pemerintah terus berupaya menekan penyebaran Covid-19. Selain memperluas cakupan vaksinasi, kampanye 5M, larangan mudik, sampai menutup Visa India.

Menurut dr. Erlina, sebenarnya Indonesia bisa belajar dari India, yang baru-baru ini mengalami Tsunami Covid-19, hingga jumlah kasus yang terinfeksi mencapai 200 ribu per harinya. Bahkan, angka kematian akibat Covid-19 juga meningkat.

"Ini terjadi karena masyarakat abai dengan protokol kesehatan dan karena mereka merasa sudah divaksin. Belajar dari India, maka vaksin bukan segala-galanya. Kalau sudah divaksin, jangan eforia dan abai dengan prokes," tegasnya.

Senada dengan dr. Erlina, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Alergi Immunologi, Dr. dr. Gatot Soegiarto, Sp.PD-KAI, FINASIM juga menegaskan tidak ada perlindungan yang sifatnya seratus persen dari vaksin.

Dalam kondisi sekarang, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mensyaratkan memberikan perlindungan 50 persen saja melalui vaksin sudah bisa dilakukan.

Perlindungan 50 persen artinya kalau dibandingkan orang yang tidak divaksin, orang yang divaksin risiko tertularnya 50 persen lebih rendah. BPOM sendiri telah mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization pada vaksin Sinovac dengan efikasi 65,3 persen.

Artinya, risiko tertularnya 65,3 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak divaksin.Tentu saja vaksin yang digunakan telah melewati serangakaian uji klinis, fase 1 sampai fase 3, sehingga aman digunakan.

Angka ini juga berarti orang yang divaksin pun masih tetap ada kemungkinan terinfeksi Covid-19.

Namun kemungkinan lebih kecil ketimbang mereka yang tidak divaksin. Termasuk yang sudah pernah terinfeksipun masih bisa terkena.

Dokter Gatot mengatakan, orang yang terinfeksi tergantung tingkat infeksinya. Infeksinya bisa tanpa gejala, gejala ringan, gejala sedang, gejala berat, atau gejala kritis.

"Semakin berat tingkat infeksinya, tubuh berjuang semakin keras untuk mengalahkan virus. Fakta yang diperoleh, antibodi itu berbanding lurus dengan tingkat keparahannya," jelas Dr Gatot.

Seperti diketahui kasus positif di Indonesia sebagian besar tanpa gejala sampai ringan.

Untuk orang tanpa gejala (OTG), antibodinya rendah, kalau gejala ringan, antibodinya agak lebih tinggi.

Lebih tinggi lagi antibodinya jika bergejala sedang, parah, bahkan kritis. Tapi kalau kritis pilihannya dua, berhasil mengalahkan sehingga sembuh dan punya antibodi tinggi, atau kalah akhirnya meninggal.

Titer antibodi penyintas Covid ini tergantung pada masing-masing orang dan kondisi yang dihadapi. Sehingga titer antibodinya ada yang bertahan 3-8 bulan, setelah itu turun.

Kalau herd immunity karena vaksinasi ini tidak tercapai, penularan akan terus terjadi. Dan kalau penularan terus terjadi, potensi mutasi virus juga akan terus terjadi.

Sebab, mutasi virus itu sesuatu yang normal, karena virus memang cenderung bermutasi.

Terutama kalau penularannya terus berlangsung.Jadi selain cakupan vaksinasi yang masih kecil, ada juga risiko mutasi virus.

"Kalau kita ingin ingin mencegah mutasi, yang harus dilakukan adalah mencegah penularan yang terus menerus terjadi itu," jelas Dr. Erlina.(tka)

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA