Wujud Atasi Masalah Kekurangan Vitamin dan Mineral

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 01 Mei 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Mikronutrisi, kekurangan vitamin dan mineral merupakan masalah kesehatan masyarakat ekonomi rentan, terutama perempuan dan anak-anak.

Hampir 50 persen perempuan muda dan remaja perempuan di negara berkembang tidak mendapat asupan vitamin dan mineral yang memadai dan setidaknya setengah dari anak-anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia menderita kekurangan mikronutrisi, vitamin dan mineral.

Kekurangan vitamin dan mineral secara bertahap dari waktu ke waktu dan semakin memburuk akan mengakibatkan dampak kesehatan yang signifikan seumur hidup sehingga pada akhirnya memperburuk siklus kemiskinan.

Kinshuk Kunwar, Direktur Bayer Indonesia, menyampaikan, program ini merupakan bagian dari Nutrient Gap Initiative yang menyasar 1 juta perempuan dan bayi di Indonesia per tahunnya hingga 2030.

Bayer meluncurkan inisiatif ini secara global untuk memberikan akses vitamin dan mineral penting bagi 50 juta orang kelompok ekonomi rentan di seluruh dunia.

"Kami percaya bahwa memberdayakan perempuan dengan kemampuan perawatan kesehatan mandiri akan memberikan pengaruh dan manfaat bagi diri mereka, anggota keluarganya, dan masyarakat," kata Kinshuk Kunwar, Direktur Bayer Indonesia, Jakarta, baru - baru ini.

Selain itu, pada masa pandemi Covid-19, imunitas sangatlah penting.

"Kami memahami bahwa asupan suplemen kesehatan halal yang mengandung multivitamin penting akan membantu masyarakat untuk tetap sehat. Melalui rangkaian program ini, kami menargetkan pemberdayaan hingga satu juta penerima manfaat di seluruh Indonesia per tahunnya," tambahnya.

Data BPS DKI Jakarta (2020) menyebut, dari jumlah populasi 10,5 juta jiwa, sekitar 3,4 persen atau 362.000 jiwa tergolong miskin; Jakarta Utara menjadi kota dengan jumlah penduduk miskin tertinggi, dan Jakarta Barat sebagai kota berkepadatan penduduk tertinggi.

Penduduk di area dengan tingkat kemiskinan dan kepadatan penduduk yang tinggi sangat berisiko mengalami gangguan kesehatan.

Riset Kesehatan Dasar Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 20183 memperlihatkan bahwa tingkat kesadaran kesehatan masyarakat Indonesia masih rendah, hanya mencapai 20 persen. Artinya, sekitar mayoritas 80 persen tidak memiliki pemahaman kesehatan yang memadai.

Dr. Widyastuti - Dinas Kesehatan DKI Jakarta, mengatakan, menyambut gembira program Bayer ini. Peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi berbagai pihak, termasuk kalangan usaha.

"Harapan kami, dukungan Bayer di ranah kesehatan melalui pembekalan kemampuan self-care bagi masyarakat ekonomi rentan perkotaan, khususnya perempuan di DKI Jakarta, berjalan melebihi ekspektasi, sehingga dapat dijadikan acuan untuk kesinambungan program di daerah-daerah lainnya dan membantu menurunkan kasus Covid-19 di DKI Jakarta," ungkap Widyastuti.

Terkait peran dunia usaha dalam meningkatkan pengetahuan perempuan mengenai kesehatan, Asisten Deputi Partisipasi Lembaga Profesi dan Dunia Usaha Kementerian PPPA, Eko Novi Ariyanti R.D. mengatakan, sangat menghargai kontribusi dunia usaha seperti Bayer yang memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat, terutama perempuan.

"Dengan membekali perempuan khususnya ibu terkait perawatan kesehatan mandiri tentunya akan berdampak positif bagi kesehatan keluarganya," ungkap Eko.

Direktur Eksekutif Mercy Corps Indonesia, Ade Soekadis menyampaikan, dengan dukungan komprehensif dan berkelanjutan dari Bayer yang berpadu dengan jaringan luas Mercy Corps Indonesia.

"Kami optimistis program Nutrient Gap Initiative yang diluncurkan Bayer ini mampu memberi dampak signifikan pada peningkatan kualitas kesehatan di Indonesia," ungkap Ade. (tka)

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA