Pentingnya Cek Tekanan Darah Mandiri

Prevalensi Hipertensi pada Milenial Kian Meningkat

IN
Oleh inilahcom
Kamis 03 Juni 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Prevalensi hipertensi pada kelompok milenial terus mengalami kenaikan. Hal ini berhubungan erat dengan pola hidup tidak sehat, stres, dan kemajuan teknologi serta berkurangnya aktivitas fisik. Pemantauan tekanan darah mandiri secara rutin menjadi sebuah keharusan.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi hipertensi pada kelompok usia 25-34 tahun mencapai 20 persen dan pada kelompok usia 35-44 tahun mencapai 34 persen. Kenaikan prevalensi hipertensi pada milenial ini berhubungan erat dengan pola hidup tidak sehat dan stres serta berkurangnya aktivitas fisik.

Stres dipicu oleh banyak faktor seperti tuntutan pekerjaan, sekolah atau perkuliahan, selain juga pandemi COVID-19. Studi Blue Cross Blue Shield Association menemukan bahwa 92 persen milenial menganggap COVID-19 telah berdampak negatif terhadap kesehatan mental mereka.

Menurut Yayasan Jantung Indonesia (YJI), hipertensi adalah salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner. Kondisi ini tidak hanya menyerang mereka yang sudah lanjut usia, tapi juga milenial, yakni generasi yang lahir antara tahun 1981 dan 1996.

Hipertensi patut diwaspadai sebagai komorbid atau penyakit penyerta teratas yang mengikuti penderita COVID-19. Menurut data yang dihimpun oleh Satuan Tugas Penanganan COVID-19 per 1 Juni 2021, tiga besar komorbid tertinggi yang ditemukan pada pasien COVID-19 adalah hipertensi (50 persen), diabetes melitus (36,6 persen), penyakit jantung (17,4persen). Hipertensi adalah kontributor utama pada penyakit jantung, stroke dan penyakit ginjal kronik.

Ahli Jantung dan Pemerhati Hipertensi Dr. Badai Bhatara Sp.JP, FIHA, MM mengatakan, hipertensi akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner 2 kali, risiko gagal jantung 1,5 kali dan stroke 2,6 enam kali lipat

"Kita harus menumbuhkan kesadaran diri untuk melakukan cek kesehatan, melakukan pengukuran tekanan darah secara rutin, dan mencegah serta mengendalikan hipertensi dengan memodifikasi gaya hidup seperti rajin berolahraga juga membatasi asupan garam," ujar Dr. Badai yang juga staf di divisi prevensi dan rehabilitasi, departemen kardiologi dan kedokteran vaskular, FK Unpad, dalam sebuah Webinar di Jakarta kemarin.

Sementara itu Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesi Esti Nurjadin, menambahkan, hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner yang tidak hanya bisa menyerang mereka yang lanjut usia, tetapi juga bisa menyerang generasi muda atau milenial.

Kenaikan prevalensi penyakit tidak menular seperti hipertensi dan penyakit jantung ini berhubungan erat dengan pola atau gaya hidup antara lain merokok, konsumsi minuman beralkohol, rendahnya aktivitas fisik, rendahnya konsumsi makanan sehat seperti sayur dan buah, serta tingginya konsumsi gula garam dan lemak.

"Yang paling utama selain menghindari pola hidup tidak sehat adalah kita juga melalukan pengukuran tekanan darah secara rutin sehingga bisa mencegah atau setidaknya dan mengendalikan hipertensi," jelas Esti.

Direktur Omron Healthcare Indonesia Tomoaki Watanabe juga menambahkan, banyak orang masih belum menyadari bahaya hipertensi atau penyakit darah tinggi. Hipertensi, yang juga disebut the silent killer, sering terjadi tanpa keluhan dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi.

"Prevalensi hipertensi selama ini dianggap hanya terjadi di kalangan pasien berusia 60 tahun ke atas. Namun, beberapa tahun terakhir, penyakit yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner itu sering ditemui pada usia yang relatif lebih muda," ujar Tomoaki Watanabe.

Dengan adanya peningkatan prevalensi hipertensi dan ancaman penyakit COVID-19, pemantauan tekanan darah secara teratur dan perubahan gaya hidup yang lebih sehat sangat dianjurkan untuk memungkinkan deteksi dini dan pengelolaan penyakit yang lebih baik.

"Di Omron, kami telah lama percaya bahwa peningkatan kesehatan pasien dapat diwujudkan dengan meningkatkan kesadaran akan hipertensi dan memantau tekanan darah secara rutin di rumah. Deteksi dini terhadap kenaikan tekanan darah adalah kunci pencegahan dan pengurangan risiko berbagai komplikasi yang berhubungan dengan hipertensi," imbuh Tomoaki .

Situasi pandemi saat ini, banyak orang yang mulai menyadari pentingnya melakukan pengecekan tekanan darah secara rutin. "Kami melihat sudah banyak orang memahami mengukur tekanan darah adalah hal yang penting," jelas Herry Hendrayadi, Marketing Manager OMRON Healthcare Indonesia.

"Kami terus menyebarkan informasi mengenai pentingnya melakukan pengecekan dan pemantauan tekanan darah. Kami juga terus berkolaborasi dengan pemerintah dan asosiasi guna menyebarluaskan informasi ini," tambah Herry Hendrayadi, Marketing Manager OMRON Healthcare Indonesia.

OMRON telah merancang berbagai monitor tekanan darah (Blood Pressure Monitoring) yang sesuai untuk penggunaan di rumah dengan akurasi tinggi, nyaman digunakan. Juga memiliki fitur-fitur canggih seperti konektivitas Bluetooth untuk berbagi data secara real time dengan dokter. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA