Kenali Penyebab Nyeri Kepala & Cara Penanganannya

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 17 Juli 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Pernah mengalami nyeri kepala? Ternyata ada beberapa jenis nyeri di kepala. Apa sebabnya dan bagaimana mengatasinya? Melalui edukasi online, dr. Riezky Valentina Astari dari Siloam Hospitals Jantung Diagram, mengulas tuntas cara mengenali dan penanganan seputar nyeri di kepala.


Membuka paparan edukasi, nyeri kepala adalah suatu rasa nyeri atau rasa tidak enak pada daerah kepala, termasuk daerah wajah dan tengkuk leher. Dikatakan dokter Riezky Astari bahwa berdasarkan klasifikasi, nyeri kepala terbagi menjadi 3 bagian yaitu Nyeri Kepala Primer yang biasanya seperti Migrain dan Nyeri kepala Tipe Tegang serta ada Nyeri Kepala Tipe Kluster.

Nyeri kepala Sekunder adalah Nyeri Kepala karena cedera kepala, infeksi, stroke, gangguan mata, telinga, hidung, sinus, gigi, mulut, konsumsi obat, makanan substansi, gangguan psikiatri dan lainnya.

"Kemudian ada pula Nyeri Kepala lainnya, yaitu yang tidak termasuk dari 2 kategori diatas," kata Riezky Valentina Astari, Jumat (16/7/2021) melalui edukasi webinar tersebut.

Berdasarkan gejala yang dirasakan pada sakit kepala Migren yaitu satu sisi kepala dengan perasaan nyeri sedang sampai dengan nyeri berat, terasa berdenyut dan semakin nyeri jika disertai aktifitas. Sehingga nyeri kepala Migren cenderung ingin beristirahat atau menutup mata dengan durasi yang berlangsung antara 4 jam sampai 72 jam.

"Penyerta akan merasakan gejala mual, muntah, fotofobia, fonofobia, aura. Sementara untuk Nyeri Kepala Tipe Tegang yaitu merasakan nyeri pada kedua sisi kepala dengan perasaan seperti ditindih beban berat, tingkat nyeri sedang namun tidak mengganggu aktifitas dengan durasi yang bervariasi," sebut Riezky Valentina.

Adapun untuk Nyeri Kepala Kluster merasakan nyeri pada satu sisi kepala, umumnya di sekitar mata. Nyeri yang dirasakan terus menerus semakin berat hingga membuat pasien gelisah, durasi nyeri yang dirasakan sekitar 30 menit sampai 3 jam. "Gejala yang dialami adalah mata merah, hidung berair, berkeringat, kelopak mata bengkak," tutur Riezky.

Melengkapi presentasi akan penanganan nyeri di kepala, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang misalnya pemeriksaan laboratorium seperti darah rutin, elektrolit, glukosa darah, profil lipid dan lainnya. Pemeriksaan CT scan atau MRI kepala juga dapat dilakukan jika ada indikasi.

Menurut dr. Riezky, tatalaksana nyeri kepala dapat dibedakan menjadi terapi abortif, terapi preventif, dan terapi non obat. Terapi abortif bertujuan untuk mengobati episode nyeri kepala yang sedang dialami menggunakan obat-obatan jenis analgesik atau antimuntah. Selanjutnya, terapi preventif dapat dilakukan untuk mengurangi frekuensi, berat, dan lama serangan nyeri kepala. Terapi preventif diharapkan dapat meningkatkan respon pasien terhadap pengobatan sehingga pada akhirnya dapat mengurangi biaya pengobatan pasien.

"Terapi non obat yang dapat dilakukan pasien nyeri kepala yaitu menghindari dan/atau mengelola faktor pencetus nyeri kepala (misalnya perubahan pola tidur, makanan, stress, rutinitas, cuaca, lingkungan tempat tinggal), melakukan teknik relaksasi, menghindari merokok atau konsumsi alkohol, serta mempertahankan kualitas tidur yang baik," paparnya.

"Pengobatan nyeri kepala bergantung dari karakteristik nyeri kepala yang dialami pasien dan faktor-faktor penyebabnya. Bila tidak ada gejala lain yang berbahaya, sakit kepala dapat diredakan dengan obat-obatan yang dijual bebas, seperti paracetamol. Bila sakit kepala dirasa mengkhawatirkan, segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai," pungkasnya.

Pencegahan sakit kepala akibat perilaku sehari-hari dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup yang sehat, misalnya beristirahat dengan cukup dan rutin berolahraga. Sedangkan untuk nyeri kepala sekunder akibat penyakit lain yang mendasari, pencegahan yang terbaik adalah dengan mengobati penyebabnya.

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA