https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   26 July 2021 - 16:35 wib

Solusi Vaksin Anak Di Masa PPKM

INILAHCOM, Jakarta - Imunisasi adalah hal yang harus dilakukan meski dalam keadaan pandemi. Namun, apa saja yang perlu diperhatikan?

Anak-anak menjadi salah satu kelompok orang yang rentan terhadap penyakit. Terlebih dalam kondisi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 diperpanjang hingga 2 Agustus 2021.

Meski begitu, imunisasi rutin yang masih dibutuhkan untuk usia anak 0-5 tahun harus tetap diperhatikan meski pandemi belum usai.

“Imunisasi itu sebetulnya suatu hal yang dilakukan kapanpun meski itu pandemi. Kalau tidak, akan terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Seandainya terjadi suatu kelambatan, ya jangan sampai tunggu terlalu lama,” kata Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Prof. Dr. Cissy B. Kartasasmita, Ph.D, Sp.A(K), M.Sc, seperti yang dikutip dari akun instagram resmi @idai_ig, Senin, (26/07/2021).

Pada masa pandemi ini, terjadi peningkatan kasus yang cukup besar terhadap penularan  Covid-19 pada anak-anak terutama adalah dua-tiga minggu terakhir ini.

“Dari data yang kami peroleh Januari awal, Juni, Juli sampai dengan 11 Juli itu ada sekitar 50 ribu lebih anak Indonesia yang tarpapar Covid-19 dari usia 0-18 tahun dan tentu ini jauh lebih besar dibandingkan dengan bulan - bulan sebelumnya,” kata Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Erna Mulati, temu media melalui webinar, Jakarta, Jumat, (23/07/2021).

Rekomendasi Vaksin Anak Drive Thru

Agar anak-anak tetap mendapatkan hak vaksin, ada cara yang bisa dilakukan.


Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan adanya vaksin drive thru yang bisa diakses orangtua untuk anaknya.

“Ada yang untuk drive thru boleh dilakukan, dengan cara prokes (protokol kesehatan). Kalau tidak dilakukan imunisasi, ya dilakukan imunisasi kejar. Dilakukan sesegera mungkin. Kapan dan dimana? Ya di tempat yang aman dan nyaman. Semua sesuai dengan prokes yang ketat,” tambah Cissy.

Vaksinasi Drive Thru dilakukan harus memperhatikan segala aspek. Pada masa pandemi, yang terpenting adalah tidak menciptakan kerumunan.

“Kalau drive thru kan orangnya lewat diperiksa, kalau bisa data - data sebelumnya sudah masuk. Harus sudah dilakukan perhatian saat pendaftarannya agar tidak terjadi penumpukan. Udara yang baik, tidak panas, dan membuat anak - anak nyaman,” ujar Cissy.

Kekhawatiran Orangtua Saat Membawa Anak ke Rumah Sakit

Kekhawatiran orangtua terhadap anak sehat ketika mendapatkan akses vaksin adalah banyak berhadapan dengan orang lain.

Apalagi pada situasi pandemi ini, tingkat penularan penyakit justru terjadi saat berada di ruang tunggu.

“Karena penularan yang terjadi cepat ternyata justru saat beraada di ruang tunggu. Adanya wacana dari IDAI vaksin drive thru harus dilihat dulu. Memang ada beberapa rumah sakit yang sudah melakukan drive thru, tetapi menurut saya memang sulit,” kata dokter Diatrie spesialis anak kepada INILAHCOM, Jakarta, Senin, (26/07/2021).

Beberapa tips, yang bisa dilakukan orangtua ketika membawa anaknya ke rumah sakit:

1. Carilah rumah sakit yang memiliki sistem membuat janji terlebih dulu untuk bertemu dokter. Sehingga, jam untuk datangnya itu tepat

2. Kemudian, kalau bisa menunggu di kendaraan masing - masing, Jika memungkinkan, kalau tidak, pastikan anak menunggu di tempat yang tidak ramai

3. Pastikan anak - anak tidak menyentuh benda - benda yang ada di rumah sakit

4. Jika anak di atas dua tahun, gunakan masker, kalau bisa double masker agar lebih aman

5. Untuk anak usia yang kurang dari dua tahun, paling tidak menggunakan faceshield.

“Yang penting adalah tidak berkerumun. Jadi diusahakan cepat datangnya, dan cepat tindakan vaksinasinya, serta cepat keluar dari situ (rumah sakit) sehingga tidak banyak kontak dengan orang lain,” papar dokter RS. Syarif Hidayatullah itu.

Solusi Bijak untuk Orangtua

Pada masa sulit seperti saat ini, Ketua Umum IDAI, Prof. DR. Dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI (Hon), menjelaskan, setidaknya orangtua sudah memiliki satu nomor kontak dokter dalam teleponnya.

Hal ini bukan saja untuk mengatasi situasi kegawat daruratan ketika anak sakit, tetapi juga untuk berkonsultasi apa saja hal yang harusnya dilakukan untuk anak ketika ingin vaksin atau tindakan kesehatan lainnya.

“Punya satu nomor kontak dokter yang bisa dihubungi. Misalnya dokter anak, dokter umum, atau dokter keluarga. Ini bisa menjadi sarana komunikasi,” kata Aman.

Tidak hanya itu, orangtua juga bisa memanfaatkan fasilitas telemadicine pada aplikasi kesehatan online yang tersedia saat ini.

Bisa juga memanfaatkan jasa pemberian vaksinasi home care, sehingga meminimalisir penularan virus.

“Kemudian kalau saat ini terdapat layanan home care, menurut saya itu cukup baik. Tetapi kita harus perhatikan, karena kita mengundang orang lain masuk ke dalam rumah. Padahal kita tahu bahwa, dengan adanya delta varian dari Covid-19 ini kita berusaha untuk sedikit mungkin bertemu orang-orang lain yang bukan anggota keluarga yang ada di rumah. Sebisa mungkin mencegah adanya transmisi virus. Jadi, banyak hal yang harus kita pikirkan,” papar Diatrie. [rok]

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Inersia

Semangat Vanesha Prescilla Dukung Remaja Vaksin Covid-19

berita-headline

Empati

Pasien Covid Tak Harus Meninggal, Cukup Terapi Multivitamin

Dokter Estetika Amira Farahnaz, sudah 18 bulan berkutat dalam menangani pasien Covid-19. Tingkat
berita-headline

Viral

Kemenkes Lakukan Audit Vaksinasi COVID-19 Untuk Cegah Penyimpangan

Kementerian Kesehatan menggandeng BPKP dan berbagai pihak untuk melakukan audit secara berkala un
berita-headline

Viral

Menkes Tegaskan Daerah Tidak Perlu Simpan Stok Vaksin

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan terkait dengan penyimpanan stok vaksin
berita-headline

Viral

Pfizer Klaim Vaksin Mereka Aman dan Efektif untuk Anak 5-11 Tahun

Pfizer menyatakan bahwa vaksin COVID-19 buatan mereka aman dan efektif untuk anak-anak berusia 5-