https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   28 July 2021 - 17:15 wib

Penularan Hepatitis B Banyak dari Ibu ke Anak

INILAHCOM, Jakarta - Setiap 28 Juli diperingati sebagai Hari Hepatitis Sedunia (HHS).

Peringatan HHS ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kepedulian dan tindakan nyata secara global terhadap beban penyakit hepatitis oleh karena virus di masyarakat.

Tema global tahun 2021 adalah Hepatitis can't wait dan tema Nasional adalah Segera Tangani Hepatitis.

Penetapan tanggal HHS ini merupakan penghargaan dunia terhadap dr. Baruch Samuel Blumberg seorang ilmuwan Amerika Serikat yang menemukan vaksin hepatitis B pada tahun 1967, dan hari lahirnya tanggal 28 Juli 1925 diperinga sebagai HHS.

Dalam rangka memperinga HHS tahun 2021 maka Subdit Hepas dan PISP Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan lembar fakta terkait Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis selama kurun waktu 2020-2021.

Hepatitis adalah peradangan pada organ ha yang disebabkan umumnya oleh virus.

Diantara beberapa virus, virus hepatitis B dan hepatitis C dengan keluaran klinis hepatitis akut dan kronik merupakan virus hepatitis yang menimbulkan permasalahan kesehatan masyarakat terbesardi Indonesia.

Hepatitis akut dapat sembuh secara spontan dan membentuk kekebalan terhadap penyakit ini, sedangkan hepatitis kronik adalah infeksi yang bertahan dalam darah hingga lebih dari enam bulan.

“Di Indonesia penularan hepatitis B umumnya terjadi secara vertikal yaitu dari ibu hepatitis B ke anak. Diperkirakan sekitar 95 persen terjadi pada masa persalinan dan 5 persen secara intra uterin,” ujar Siti Nadia Tarimizi  selaku direktur P2PML Kementerian Kesehatan, saat temu media webinar, Jakarta, Rabu, (28/07/2021).

Masih menurutnya, karena penularan terjadi di awal kehidupan, maka risiko bayi menjadi hepas B kronik juga naik dikemudian hari.

Karena besarnya permasalahan penularan secara vertikal ini maka kebijakan pencegahan dan pengendalian hepatitis B diprioritaskan pada pencegahan penularan secara vertikal dengan melakukan deteksi dini hepas B pada semua ibu hamil di tri semester 1 kehamilannya.

“Serta ditindak lanjuti dengan upaya pencegahan penularan ke bayi yang dilahirkan,” tambahnya.

Upaya pencegahan penularan hepatitis B dari ibu ke anak melalui deteksi dini hepatitis B (DDHB) pada ibu hamil di Indonesia mulai dilakukan di 5 wilayah daerah Ibukota Jakarta pada tahun 2013 dan terus berkembang hingga tahun 2020.

Pelaksanaan DDHB di Indonesia telah dilaksanakan di 470 kabupaten kota atau 91,4 persen dari target 85 persen.

Tiga kab/kota terendah yang melaksanakan DDHB terdapat di Provinsi Papua 51,7 persen, Provinsi Papua Barat 53,8 persen dan Provinsi Sumatera Utara 60,6 persen.

“Jumlah ibu hamil yang diperiksa hepatitis B tahun 2020 sebanyak 2.682.297 orang 51,4 persen,” tambahnya.

Pencapaian tahun 2020 yang berada dalam suasana pandemi COVID 19 menunjukkan ada peningkatan dibanding pada tahun 2019 yaitu sebanyak 2.576.980 orang 49 persen.

Dalam pelaksanaan DDHB pada ibu hamil ditemukan sebanyak 45.108 1,7 persen ibu hamil HBsAg reaktif dan sebanyak 32.387 bayI yang lahir dari ibu HBsAg reakf mendapat HBIg dan Imunisasi hepas B0 kurang dari 24 jam setelah kelahiran.

“Tatalaksana selanjutnya dari bayi yang lahir dari ibu hepatitis tersebut adalah pemberian imunisasi lanjutan sesuai dengan program imunisasi nasional pada usia 2, 3 dan 4 bulan,” paparnya.

Saat bayi tersebut berusia 9-12 bulan akan dilakukan pemeriksaan HBsAg sebagai evaluasi upaya pencegahan penularan.

Terlaporkan bahwa dari 6.730 bayi yang telah diperiksa HBsAg maka sebanyak 6.637 bayi 98,6 persen HBsAg non reaktif, yang artinya sebanyak 98,6 persen bayi yang lahir dari ibu HBsAg reaktif telah terlindungi dari penularan hepatitis B.

Hingga akhir Juni 2021, ibu hamil yang diperiksa sebanyak 905.307 orang 18,5 persen, dengan hasil 15.403 orang 1,7 persen ditemukan reaktif, dan sebanyak 9.087 bayi telah lahir dari ibu HBsAg reaktif.(tka)


 

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

Tidak Ada Berita yang Relevan