https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   02 August 2021 - 19:01 wib

Solusi Tepat Ambil Keputusan Lanjutan PPKM

Masyarakat menanti keputusan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegaitan Masyarakat) lanjutan usai diberlakukan PPKM level 4 dengan kelonggaran bertahap hingga Senin, (02/08/2021).

seperti diberitakan sebelumnya, Presiden Joko Widodo memutuskan untuk memperpanjang kebijakan PPKM Level 4 mulai 26 Juli-2 Agustus 2021.

“Dengan mempertimbangkan aspek kesehatan, aspek ekonomi dan dinamika sosial saya memutuskan untuk melanjutkan penerapan PPKM level 4 dari tanggal 26 Juli sampai dengan 2 Agustus 2021,” ungkap Jokowi dalam telekonferensi pers di Jakarta, Minggu (25/7).

Guru Besar Fakultas Kedokteran UI, Prof. Tjandra Yoga Aditama menjelaskan ada dua poin penting yang menjadi acuan untuk membuat keputusan PPKM lanjutan.                           

Pertama yang harus diperhatikan menurut Tjandra Yoga adalah situasi epidemiologi atau penularan di masyarakat pada setiap daerah itu sendiri.

Kedua adalah tentang kapasitas respon kesehatan yang ada.

Penghitungannya seharusnya sesuai dokumen terbaru WHO, 14 Juni 2021, Considerations for implementing and adjusting public health and social measures in the context of COVID-19.
 
“Tentang poin dua, rumah sakit di Jakarta dan kota besar di Jawa tidaklah sepenuh dua atau tiga minggu yg lalu. Pasien dapat lebih mudah masuk IGD kalau perlu, dan relatif lebih mudah mendapat perawatan di ruang isolasi dan ICU. Sesuatu kemajuan yang amat baik dan patut disyukuri,” kata Mantan Direktur WHO Asia Tenggara kepada INILAHCOM, Jakarta, Senin, (02/08/2021).

Tjandra Yoga menilai, data epidemiologi atau penularan di masyarakat harus lebih cermat dan hati-hati.

“Sedikitnya ada empat data epidemiologi yang dilaporkan setiap hari, jumlah kasus baru, jumlah tes yang dilakukan, angka kepositifan dan jumlah yang meninggal,” ujar Mantan Dirjen P2P Kementerian Kesehatan RI itu.

Untuk menilai apakah memang angka-angka itu sudah membaik atau belum maka kita dapat menganalisanya dengan membandingkannya dengan data tanggal 3 Juli 2021 ketika PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegaitan Masyarakat) darurat di mulai.

Dalam hal ini harus disadari bahwa angka 3 Juli bukanlah angka yang akan dicapai sesudah PPKM dilakukan hingga kini.

“Angka 3 Juli justru angka yang tinggi sehingga pada waktu itu diputuskan keadaan PPKM darurat. Jadi kalau angka hari-hari ini masih sama dengan angka 3 Juli (apalagi kalau lebih tinggi) maka artinya  belumlah teratasi baik,” tegasnya.

Analysis Penularan covid-19 di Masyarakat
 
Inilah Analisa data epidemiologi atau penularan masyarakat hari ini:

1. Pada 3 Juli 2021 ada 27.913 kasus baru, hari ini 1 Agustus angkanya naik menjadi 30.738.

“Harus diingat bahwa pernah ada target agar sesuah PPKM angka dapat turun dibawah 10 ribu per hari, jadi masih jauh nampaknya,” tegas Kepala Balitbangkes itu.
 
2. Pada 3 Juli 2021 angka kepositifan totalnya adalah 25,2 persen dan kalau berdasar PCR/TCM adalah 36,7 persen.

Hari ini 1 Agustus angkanya naik menjadi angka kepositifan totalnya adalah 27,3 persen dan kalau berdasar PCR/TCM adalah 52,8 persen.

WHO mengambil angka kepositifan di bawah 5 persen untuk menyatakan situasi sudah terkendali, sedangkan angka Indonesia masih lima kali lebih besar dari patokan aman 5 persen itu.

India sudah berhasil menurunkan angka kepositifan 10 kali lipat.

“Dari angka sekitar 22 persen pada Mei 2021 dimana kasus di India sedang amat tinggi dan menjadi berita utama dunia di di negara kita juga menjadi 2,4 persen sekarang,” paparnya.

Mudah-mudah angka kepositifan kita juga bisa turun 10 kali juga sehingga kasus di masyarakat juga akan turun dengan bermakna.
 
3. Pada 3 Juli 2021 jumlah tes adalah 110.983 orang dan 157.227 spesimen. Hari ini 1 Agustus angkanya memang naik menjadi 112.700 orang.

“Pemerintah pernah mentargetkan pemeriksaan 400 ribu sehari, yang jelas masih jauh dari tercapai,” ujarnya.
 
4. Pada 3 Juli 2021 ada 491 warga Indonesia yang meninggal dunia, Pada 1 Agustus angkanya naik menjadi 1.604 yang wafat, artinya,angka tersebut jadi naik lebih tiga kali lipat.

“Ribuan kerabat kita yang meninggal setiap hari ini tidak akan mungkin kembali lagi, mereka sudah meninggalkan kita selama ini," ujarnya. 

Jumlah kematian harus ditekan, dan ini harus jadi prioritas utama.

Solusi Turunkan Angka Kematian

Ada tujuh cara utama menurunkan angka kematian.

Pertama melakukan analisa mendalam tentang sebab kematian dan faktor yang mempengaruhinya, ke dua menekan penularan di masyarakat dengan pembatasan sosial, ketiga meningkatkan tes dan telusur serta ke empat meningkatkan vaksinasi utamanya pada kelompok rentan.

Upaya ke lima adalah identifikasi dan pengendalian infeksi akibat varian delta dan varian baru lainnya.

“Ke enam menangani dengan seksama mereka yang isolasi mandiri serta ke tujuh adalah pelayanan yang baik dan lengkap di rumah sakit,” tambahnya.(tka)

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

IXU

Naik Motor Setelah Bergejala Covid-19, Amankah?

Pertanyaan: Apakah berbahaya setelah terinfeksi Covid-19 mengendarai motor sendiri, hal ap
berita-headline

Empati

Pasien Covid Tak Harus Meninggal, Cukup Terapi Multivitamin

Dokter Estetika Amira Farahnaz, sudah 18 bulan berkutat dalam menangani pasien Covid-19. Tingkat
berita-headline

IXU

Aduh, Ini Lima Ciri Pola Asuh Toksik

Toxic parenting menjadi kata-kata yang kini kerap dipakai masyarakat. Lantas, apa sih sebe
berita-headline

Inersia

Pentingnya Perhatikan Kesehatan Mental di Masa Pandemi

Kesehatan mental menjadi salah satu isu yang marak dibicarakan terutama di masa pandemi saat ini.
berita-headline

Viral

Halodoc Masuk Daftar 100 Layanan Kesehatan Digital Top Dunia

Perusahaan telemedisin Indonesia, Halodoc, dinobatkan sebagai salah satu dari 100 perusahaan laya